Reaktor Absorber Sebuah Model Dengan Material Tabung Akrilik Transparan

Reaktor absorber adalah perangkat yang digunakan dalam proses kimia atau biologi untuk menyerap atau menangkap zat tertentu dari campuran gas atau cairan. Prinsip kerjanya melibatkan kontak erat antara fase gas atau cairan dengan bahan penyerap (absorber), yang dirancang untuk menangkap komponen target melalui proses fisik atau kimia.

Contoh penerapan reaktor absorber:

  • Pengolahan gas buang: Menyerap gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), atau amonia dari aliran gas.
  • Bioproses: Digunakan dalam kultur mikroba atau sel untuk mengontrol kadar gas seperti oksigen atau karbon dioksida.
  • Proses kimia: Memisahkan atau memurnikan campuran bahan kimia dengan menyerap komponen yang tidak diinginkan.

Dalam konteks tabung akrilik, reaktor absorber bisa dirancang dengan tabung transparan untuk memudahkan pengamatan prosesnya. Reaktor absorber berbahan akrilik bisa didesain sederhana, namun tetap fungsional dan mudah diamati. Berikut cara kerja dan gambaran umum desainnya.

Cara Kerja Reaktor Absorber:

  1. Aliran Fluida: Campuran gas atau cairan masuk melalui saluran inlet di bagian bawah tabung.
  2. Media Absorpsi: Di dalam tabung, terdapat media penyerap seperti larutan kimia, membran, atau material padat berpori. Kontak antara fluida dan media ini membuat zat target terserap.
  3. Proses Difusi: Saat fluida bergerak ke atas, zat yang tidak terserap akan keluar melalui saluran outlet di bagian atas, sementara zat yang terserap akan tertahan dalam media.
  4. Pengamatan: Karena tabungnya akrilik transparan, prosesnya bisa dipantau secara visual, misalnya untuk melihat perubahan warna atau munculnya gelembung gas.
  5. Pembuangan/Zat Hasil: Zat yang sudah terserap bisa dikumpulkan di bagian dasar atau diproses lebih lanjut.

Desain Reaktor Absorber Berbahan Akrilik:

Tray compartment with baffle

Absorber Reactor Tower

1. Tabung Akrilik:

  • Diameter: 5–15 cm, tergantung skala proses.
  • Tinggi: 30–100 cm agar memberikan waktu kontak yang cukup.
  • Tutup Atas/Bawah: Pakai tutup ulir atau flensa dengan o-ring agar kedap udara.

2. Inlet dan Outlet:

  • Pasang fitting pipa di bagian bawah untuk inlet fluida dan di bagian atas untuk outlet gas/cairan.
  • Bisa ditambahkan katup pengatur aliran di masing-masing saluran.

3. Media Penyerap:

  • Gunakan tray bertingkat atau packing material seperti bola kaca kecil, cincin Raschig, atau spons khusus untuk memperluas area kontak.
  • Bisa ditambahkan diffuser di inlet untuk memecah aliran menjadi gelembung kecil, meningkatkan efisiensi penyerapannya.

4. Aksesori Pendukung:

  • Sensor pH atau Oksigen Terlarut: Jika digunakan untuk bioproses.
  • Pompa Peristaltik atau Pompa Udara: Untuk mengatur laju aliran masuk.
  • Katup Pelepas Tekanan: Untuk mencegah tekanan berlebih.

5. Dudukan dan Penyangga:

  • Gunakan rangka akrilik atau logam ringan untuk menjaga tabung tetap stabil.









Ultrasonik Level Sensor

Ultrasonik level sensor adalah sensor yang digunakan untuk mengukur ketinggian atau level suatu cairan atau material di dalam suatu wadah menggunakan gelombang ultrasonik. Sensor ini bekerja dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik ke permukaan material yang diukur, kemudian mendeteksi pantulan gelombang tersebut untuk menghitung jarak berdasarkan waktu tempuhnya.

Cara Kerja Ultrasonik Level Sensor

  1. Pemancar (Transmitter) mengirimkan gelombang ultrasonik ke arah permukaan material (cairan atau padatan).
  2. Gelombang ultrasonik dipantulkan kembali oleh permukaan material.
  3. Penerima (Receiver) menangkap pantulan gelombang.
  4. Mikrokontroler atau prosesor dalam sensor menghitung waktu tempuh gelombang dan mengkonversinya menjadi jarak atau level ketinggian material.

Kelebihan Ultrasonik Level Sensor

  • Non-kontak: Tidak menyentuh cairan atau material yang diukur, sehingga mengurangi risiko kontaminasi.
  • Akurasi tinggi: Dapat memberikan pengukuran yang cukup akurat.
  • Dapat digunakan di berbagai lingkungan: Cocok untuk cairan, bubuk, atau benda padat dalam tangki atau silo.

Kekurangan Ultrasonik Level Sensor

  • Terganggu oleh uap atau busa: Jika ada uap air atau busa di permukaan cairan, pantulan bisa terganggu.
  • Material yang menyerap gelombang: Beberapa bahan yang terlalu lunak atau menyerap suara dapat menyebabkan pengukuran kurang akurat.
  • Terbatas pada jarak tertentu: Biasanya digunakan untuk jarak menengah (hingga beberapa meter).

Sensor ini sering digunakan dalam industri seperti:

  • Pengukuran level air dalam tangki.
  • Sistem pengolahan limbah.
  • Industri kimia dan farmasi.
  • Pengukuran level bahan baku dalam silo.

saat ini sudah ada beberapa merek ultrasonik level sensor yang sudah beredar di pasaran dengan berbagai spesifikasi. Berikut beberapa merek yang umum digunakan:

1. Honeywell

  • Seri: Honeywell USonic
  • Keunggulan: Tahan terhadap lingkungan industri, akurasi tinggi.
  • Aplikasi: Pengukuran level cairan dan padatan dalam industri.

2. Siemens

  • Seri: SITRANS LUT400, SITRANS Probe LU
  • Keunggulan: Teknologi canggih dengan kompensasi suhu dan gangguan sinyal.
  • Aplikasi: Tangki air, limbah, dan industri minyak & gas.

3. Endress+Hauser

  • Seri: Prosonic FMU30, FMU41
  • Keunggulan: Cocok untuk cairan dan bahan curah, daya tahan tinggi.
  • Aplikasi: Industri kimia, pengolahan air, makanan & minuman.

4. Vega

  • Seri: VEGASON 61, 62, 63
  • Keunggulan: Sensor kompak dengan berbagai opsi pemasangan.
  • Aplikasi: Tangki penyimpanan, silo, dan proses industri.

5. Pepperl+Fuchs

  • Seri: UC4000, UC5000
  • Keunggulan: Dapat digunakan di lingkungan yang keras, mudah diintegrasikan dengan PLC.
  • Aplikasi: Industri manufaktur dan otomasi.

6. Omron

  • Seri: E4PA, E4C-UDA
  • Keunggulan: Sensitivitas tinggi dan cocok untuk sistem otomatisasi.
  • Aplikasi: Pengukuran level dalam aplikasi industri dan logistik.

7. MaxBotix

  • Seri: MB7389, MB7052
  • Keunggulan: Kompak, mudah diintegrasikan dengan mikrokontroler seperti Arduino.
  • Aplikasi: Proyek DIY, robotika, dan pemantauan tangki kecil.

8. Banner Engineering

  • Seri: T30UX, Q45U
  • Keunggulan: Desain tangguh, tahan air, cocok untuk kondisi ekstrem.
  • Aplikasi: Otomasi pabrik, industri pertambangan, dan pengolahan limbah.

Jika Anda membutuhkan sensor untuk proyek berbasis Arduino atau IoT, MaxBotix atau Omron bisa jadi pilihan. Namun, untuk aplikasi industri yang lebih kompleks, Siemens, Endress+Hauser, atau Vega lebih direkomendasikan.

Saat ini ada beberapa ultrasonik level sensor nirkabel yang sudah dapat terhubung ke komputer atau laptop untuk monitoring. Beberapa sensor ini menggunakan teknologi seperti Wi-Fi, Bluetooth, LoRa, atau Zigbee untuk komunikasi jarak jauh.

Merek dan Model Ultrasonik Level Sensor Nirkabel

1. BinMaster - SmartSonic

  • Konektivitas: Wi-Fi / Bluetooth
  • Keunggulan: Mudah dipasang, dapat dikonfigurasi melalui aplikasi atau PC.
  • Aplikasi: Tangki penyimpanan cairan dan bahan curah dalam industri.

2. YoLink Smart Liquid Level Sensor

  • Konektivitas: LoRa (dengan gateway)
  • Keunggulan: Dapat mengirim data ke cloud, pemantauan jarak jauh.
  • Aplikasi: Pemantauan level air sumur, tangki, dan kolam.

3. Tekelek TEK 766 Ultrasonic Wireless Tank Sensor

  • Konektivitas: Wi-Fi / LoRa
  • Keunggulan: Baterai tahan lama hingga beberapa tahun.
  • Aplikasi: Pengukuran level bahan bakar, cairan, dan limbah.

4. Monnit Wireless Ultrasonic Level Sensor

  • Konektivitas: Zigbee / Wi-Fi / Cellular (4G)
  • Keunggulan: Tahan air, dapat dihubungkan ke platform monitoring berbasis cloud.
  • Aplikasi: Pemantauan tangki industri dan otomatisasi IoT.

5. AKCP Wireless Tank Level Sensor

  • Konektivitas: Wi-Fi / LoRa
  • Keunggulan: Integrasi dengan sistem pemantauan berbasis web.
  • Aplikasi: Pengukuran level air, bahan kimia, dan tangki bahan bakar.

Cara Monitoring ke Komputer atau Laptop

  • Sensor-sensor ini biasanya dapat dikonfigurasi dan dipantau melalui dashboard berbasis web atau software khusus.
  • Beberapa model mendukung integrasi ke sistem SCADA atau IoT cloud platforms seperti AWS IoT, ThingsBoard, atau Node-RED.
  • Jika menggunakan sensor berbasis LoRa atau Zigbee, diperlukan gateway agar data bisa dikirim ke komputer.

Kelemahan Penggunaan Ultrasonik Level Sensor Nirkabel vs. Kabel

Baik sensor ultrasonik nirkabel maupun dengan kabel memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Berikut adalah perbandingannya:


1. Kelemahan Ultrasonik Level Sensor Nirkabel

Keunggulan: Fleksibel, mudah dipasang, cocok untuk pemantauan jarak jauh.
Kelemahan:

a. Ketergantungan pada Baterai atau Sumber Daya

  • Sensor nirkabel biasanya menggunakan baterai yang memiliki masa pakai terbatas.
  • Perlu penggantian atau pengisian ulang baterai secara berkala, terutama jika digunakan dalam lingkungan yang sulit dijangkau.

b. Gangguan Sinyal

  • Interferensi dari perangkat lain yang menggunakan frekuensi yang sama (Wi-Fi, LoRa, Zigbee, Bluetooth).
  • Kelemahan di area dengan banyak rintangan (misalnya dalam pabrik dengan banyak logam atau struktur beton tebal).

c. Delay dan Keandalan Data

  • Karena mengandalkan komunikasi nirkabel, ada kemungkinan delay atau kehilangan data jika sinyal tidak stabil.
  • Kurang cocok untuk pemantauan real-time dengan akurasi tinggi, terutama di lingkungan industri yang membutuhkan respon cepat.

d. Biaya Awal Lebih Mahal

  • Sensor nirkabel sering kali lebih mahal dibandingkan dengan versi kabel karena adanya modul komunikasi nirkabel dan sistem pengelolaan daya.

2. Kelemahan Ultrasonik Level Sensor dengan Kabel

Keunggulan: Stabil, tidak terganggu sinyal, lebih akurat untuk pemantauan real-time.
Kelemahan:

a. Pemasangan yang Rumit dan Terbatas

  • Butuh kabel panjang, terutama jika tangki atau wadah berada jauh dari komputer atau sistem pemantauan.
  • Sulit dipasang di lokasi tinggi atau tertutup, memerlukan jalur kabel khusus yang bisa memakan waktu dan biaya tambahan.

b. Risiko Kerusakan Kabel

  • Kabel bisa terkelupas, putus, atau rusak akibat lingkungan ekstrem (panas, kelembaban tinggi, getaran mesin).
  • Jika terkena cairan kimia atau korosif, kabel dapat mengalami degradasi dan mempengaruhi kinerja sensor.

c. Kurang Fleksibel untuk Pemindahan atau Modifikasi

  • Jika ingin memindahkan sensor, harus menarik ulang kabel yang bisa merepotkan.
  • Tidak cocok untuk aplikasi yang sering berubah lokasi atau bersifat mobile.

Kesimpulan

Pilih Nirkabel jika: ✔️ Memerlukan pemantauan jarak jauh.
✔️ Tidak ingin repot dengan pemasangan kabel.
✔️ Lokasi sulit dijangkau atau sering berpindah.

Pilih Kabel jika: ✔️ Membutuhkan keandalan tinggi dan akurasi real-time.
✔️ Tidak ingin tergantung pada baterai.
✔️ Lingkungan memiliki banyak gangguan sinyal.


DEMO KIT ULTRASONIC LEVEL SENSOR :


Demo Kit Ultrasonic Level Sensor

Untuk pembuatan demo kit seperti ini dapat menghubungi kami melalui link kontak atau dapat melihat lihat terlebih dulu melalui link instagram


Apakah Reaktor dari Material Akrilik Dapat Disterilisasi Uap Dengan Suhu Tinggi ?

Tabung akrilik tidak ideal untuk sterilisasi uap pada suhu tinggi, seperti 100°C atau lebih, karena akrilik memiliki batas ketahanan panas yang relatif rendah dibandingkan dengan bahan lain seperti kaca atau baja tahan karat. Berikut adalah beberapa pertimbangan terkait ketahanan akrilik terhadap sterilisasi uap pada suhu tinggi:

1. Sifat Termal Akrilik

  • Suhu Transisi Gelas (Tg): Suhu transisi gelas akrilik adalah sekitar 105°C, yang berarti bahwa pada suhu mendekati atau melebihi ini, akrilik mulai melunak, mengalami deformasi, dan kehilangan kekuatannya.
  • Pemuaian Termal: Pada suhu mendekati 100°C, akrilik akan mengalami ekspansi termal, yang bisa menyebabkan retak atau deformasi jika proses pemanasan atau pendinginannya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati.

2. Ketahanan Terhadap Sterilisasi Uap

  • Sterilisasi Uap pada 100°C: Akrilik dapat terpengaruh oleh uap panas pada suhu 100°C. Meski mungkin bisa bertahan untuk jangka waktu singkat, jika terlalu lama terkena suhu tersebut, risiko deformasi, retak, atau kerusakan struktural akan meningkat.
  • Sterilisasi Uap pada Tekanan Tinggi (Autoclave): Pada suhu yang lebih tinggi, seperti yang digunakan dalam autoclave (121°C atau lebih tinggi), akrilik akan melewati titik transisi gelasnya dan kemungkinan besar akan rusak atau berubah bentuk secara signifikan.

3. Alternatif Sterilisasi untuk Akrilik

Untuk menjaga integritas tabung akrilik, metode sterilisasi alternatif dapat dipertimbangkan:

  • Sterilisasi Kimia: Menggunakan bahan kimia seperti etanol 70%, hidrogen peroksida, atau larutan desinfektan khusus yang aman untuk akrilik.
  • Sterilisasi Sinar UV: Sinar ultraviolet dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan akrilik, terutama dalam aplikasi sterilitas rendah atau non-kritis.
  • Sterilisasi Gas: Gas seperti etilen oksida atau ozon dapat digunakan untuk mensterilkan material tanpa merusak struktur akrilik.

4. Penggunaan Akrilik dalam Bioproses

Jika sterilisasi uap sangat diperlukan dalam aplikasi bioproses yang Anda lakukan, Anda mungkin perlu mempertimbangkan untuk mengganti tabung akrilik dengan bahan lain yang tahan suhu tinggi, seperti kaca borosilikat atau stainless steel, yang tahan terhadap suhu dan tekanan yang lebih ekstrem selama proses sterilisasi uap.

Secara keseluruhan, akrilik tidak cocok untuk sterilisasi uap pada suhu 100°C atau lebih tinggi, terutama jika harus digunakan dalam autoclave. Jika sterilisasi kimia atau metode suhu rendah dapat diterapkan, tabung akrilik masih dapat digunakan tanpa risiko deformasi atau kerusakan.

Pilihan Beberapa Desain Fotobioreaktor

Fotobioreaktor untuk ganggang (alga) memiliki beberapa desain yang bergantung pada kebutuhan produksi dan efisiensi pertumbuhan ganggang. Berikut adalah beberapa desain umum fotobioreaktor untuk alga:


Beberapa Desain Fotobioreaktor

1. Fotobioreaktor Kolom (Tubular Photobioreactor)

  • Deskripsi: Fotobioreaktor berbentuk tabung panjang, biasanya dibuat dari tabung transparan seperti akrilik atau kaca. Tabung ini bisa diatur secara vertikal atau horizontal.
  • Keunggulan: Penyerapan cahaya yang baik karena permukaan yang luas; cocok untuk skala besar.
  • Kekurangan: Biaya pembuatan dan perawatan bisa mahal, serta membutuhkan pompa untuk mengalirkan kultur dan gas (CO2 dan oksigen).

2. Fotobioreaktor Panel Datar (Flat Panel Photobioreactor)

  • Deskripsi: Reaktor berbentuk panel datar, di mana ganggang tumbuh dalam lapisan tipis di dalam ruang antara dua panel transparan.
  • Keunggulan: Distribusi cahaya yang merata, kontrol yang baik terhadap kondisi lingkungan.
  • Kekurangan: Risiko penumpukan panas, sehingga sering memerlukan sistem pendinginan.

  • Flat Panel Fotobioreaktor

3. Fotobioreaktor Tangki Stagnan (Stirred Tank Photobioreactor)
  • Deskripsi: Menggunakan tangki tertutup dengan sistem pengaduk untuk menjaga agar kultur tetap homogen dan terkena cahaya secara merata.
  • Keunggulan: Sederhana dalam desain, mudah dikontrol, cocok untuk eksperimen laboratorium.
  • Kekurangan: Efisiensi cahaya rendah karena area permukaan terhadap volume yang kecil.

4. Fotobioreaktor Spiral (Helical Photobioreactor)

  • Deskripsi: Menggunakan tabung transparan yang disusun melingkar seperti spiral untuk meningkatkan panjang lintasan cahaya.
  • Keunggulan: Area permukaan yang tinggi, meningkatkan efisiensi penyerapan cahaya.
  • Kekurangan: Sulit untuk dibuat dan dirawat, membutuhkan pengendalian suhu yang lebih ketat.

5. Fotobioreaktor Bilik Udara (Air-Lift Photobioreactor)

  • Deskripsi: Reaktor ini menggunakan aliran udara untuk mencampur dan menyediakan aerasi bagi kultur alga. Sistem ini biasanya tidak memiliki bagian bergerak.
  • Keunggulan: Hemat energi karena tidak memerlukan pengaduk mekanis; perawatan mudah.
  • Kekurangan: Kontrol distribusi cahaya yang tidak optimal jika tidak diatur dengan baik.

6. Fotobioreaktor Membran (Membrane Photobioreactor)

  • Deskripsi: Menggunakan membran semi-permeabel untuk memisahkan kultur dari cairan atau gas, memberikan lingkungan yang lebih terkontrol.
  • Keunggulan: Cocok untuk proses pemurnian bioproduk seperti biofuel atau bahan farmasi dari alga.
  • Kekurangan: Lebih kompleks dan mahal dibandingkan desain lain.

7. Fotobioreaktor Open Pond (Kolam Terbuka)

  • Deskripsi: Meski bukan reaktor tertutup, open pond atau kolam terbuka sering digunakan dalam skala besar. Ini adalah kolam dangkal terbuka yang mendapatkan cahaya matahari langsung.
  • Keunggulan: Sangat murah dan sederhana.
  • Kekurangan: Sulit dikendalikan (terutama terhadap kontaminasi dan suhu); efisiensi cahaya rendah.

Fotobioreaktor berbentuk tabung atau kolom biasanya lebih banyak digunakan dalam produksi skala besar, sedangkan flat panel lebih sering digunakan untuk penelitian karena kemudahan kontrol kondisi pertumbuhan. Desain optimal biasanya bergantung pada kebutuhan spesifik, seperti skala produksi, jenis alga, dan produk akhir yang diinginkan.

Kontaminasi Ganggang Non Target pada Kolom Fotobioreaktor

Pada fotobioreaktor yang digunakan untuk memanen ganggang tertentu, ganggang lain (termasuk lumut ganggang atau mikroalga yang tidak diinginkan) juga bisa tumbuh jika kondisinya sesuai. 

Kolom Akrilik Fotobioreaktor

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Kontaminasi:

  • Ganggang yang tidak diinginkan bisa masuk ke fotobioreaktor melalui udara, air, atau alat yang tidak steril. Sekali masuk, ganggang ini bisa bersaing dengan strain ganggang yang ingin dipanen, terutama jika lingkungan fotobioreaktor memberikan kondisi yang sesuai (cahaya, nutrisi, dan CO₂).

2. Persaingan Nutrisi:

  • Ganggang atau lumut ganggang lain yang tidak diinginkan bisa mengambil nutrisi yang seharusnya digunakan oleh ganggang target, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen ganggang yang diinginkan. Pertumbuhan ganggang yang tidak diinginkan juga bisa mengurangi efisiensi produksi.

3. Perubahan Kondisi Lingkungan:

  • Jika kondisi di dalam fotobioreaktor berubah, misalnya dalam hal tingkat pH, intensitas cahaya, atau nutrisi, ini dapat memberikan kesempatan bagi ganggang lain untuk tumbuh. Beberapa jenis ganggang lebih toleran terhadap variasi lingkungan, sehingga mereka dapat berkembang ketika kondisi tidak ideal untuk ganggang target.

4. Cross-Contamination dari Sebelumnya:

  • Jika fotobioreaktor tidak dibersihkan dan disterilkan dengan benar antara siklus panen, ganggang dari siklus sebelumnya, atau spesies ganggang lain yang tidak diinginkan, dapat tumbuh kembali dan mengganggu hasil panen berikutnya.

Cara Mencegah Pertumbuhan Ganggang Lain di Fotobioreaktor:

  1. Sterilisasi yang Ketat:
    Pastikan semua peralatan, air, dan media kultur yang digunakan di fotobioreaktor disterilisasi dengan baik untuk mencegah kontaminasi awal dari ganggang lain. Ini bisa dilakukan dengan autoklaf, sinar UV, atau sterilisasi kimia.
  2. Penggunaan Filter Udara:
    Fotobioreaktor sering menggunakan udara yang diperkaya dengan CO₂ untuk mendukung pertumbuhan ganggang. Pastikan udara yang masuk melalui filter untuk mencegah spora atau partikel dari ganggang lain masuk.
  3. Pengendalian Kondisi Lingkungan:
    Pastikan bahwa kondisi seperti cahaya, suhu, pH, dan nutrisi dipantau dan diatur agar hanya sesuai untuk pertumbuhan ganggang target. Lingkungan yang sangat spesifik bisa membatasi pertumbuhan ganggang yang tidak diinginkan.
  4. Penyaringan Berkala:
    Lakukan penyaringan dan pemantauan berkala terhadap kultur ganggang untuk memastikan bahwa ganggang lain tidak tumbuh atau mengambil alih. Jika ditemukan ganggang kontaminan, langkah-langkah penanganan segera bisa diambil.

Kesimpulan:

Ganggang atau lumut ganggang lain bisa hidup dan tumbuh di fotobioreaktor jika terjadi kontaminasi atau kondisi lingkungan mendukungnya. Pengendalian ketat terhadap lingkungan dan sterilisasi adalah kunci untuk memastikan hanya ganggang target yang tumbuh di dalam fotobioreaktor.

Kami menerima jasa pembuatan tabung akrilik custom berbahan akrilik lembaran untuk berbagai keperluanKlik di sini.


Cara Sterilisasi Tabung Akrilik Untuk Persiapan Pada Penggunaan Reaktor Bioproses

    Beberapa kustomer yang memesan bioreaktor dengan material tabung akrilik menanyakan bagaimana cara sterilisasi tabung akrilik yang aman, terutama jika digunakan dalam bioproses sehingga tidak merusak akrilik. Sterilisasi adalah kegiatan pembersihan atau pemusnahan organisme atau biota yang tidak dikehendaki dari suatu kegiatan budidaya.

Custom Tabung Akrilik

Berikut adalah beberapa metode sterilisasi yang aman untuk tabung akrilik:

1. Sterilisasi dengan Alkohol Isopropil (70%)

Menggunakan isopropil alkohol dengan konsentrasi 70% adalah cara yang efektif untuk membunuh bakteri dan jamur tanpa merusak akrilik. Anda bisa menyemprotkan atau mengusap permukaan tabung dengan alkohol isopropil, lalu biarkan menguap di udara. Hindari alkohol dengan konsentrasi lebih tinggi karena dapat menyebabkan retakan atau kerusakan pada permukaan akrilik dalam jangka panjang.

2. Sterilisasi dengan Sinar UV

Sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV) adalah cara yang sangat aman untuk akrilik karena tidak melibatkan bahan kimia atau panas yang berlebihan. Lampu UV dapat menghancurkan bakteri, virus, dan jamur dengan merusak DNA mereka. Pastikan paparan sinar UV merata dan sesuai durasi yang direkomendasikan untuk efisiensi yang maksimal.

3. Penggunaan Hidrogen Peroksida (3%)

Hidrogen peroksida dengan konsentrasi 3% bisa digunakan untuk sterilisasi. Semprotkan larutan ini ke dalam tabung dan biarkan selama beberapa menit sebelum dibilas dengan air steril. Pastikan hidrogen peroksida tidak terlalu lama bersentuhan dengan permukaan akrilik untuk menghindari potensi kerusakan.

4. Penggunaan Etilen Oksida (ETO)

Sterilisasi menggunakan etilen oksida adalah metode yang aman untuk plastik seperti akrilik. Ini sering digunakan dalam industri medis untuk mensterilkan alat-alat sensitif yang tidak tahan panas. Proses ini memerlukan peralatan khusus dan dilakukan di fasilitas yang aman, karena ETO adalah gas yang beracun jika tidak ditangani dengan benar.

5. Sterilisasi dengan Autoklaf (TIDAK Disarankan)

Autoklaf yang menggunakan uap panas bertekanan sangat umum untuk sterilisasi alat medis berbahan logam atau kaca. Namun, metode ini tidak disarankan untuk akrilik karena suhu tinggi dapat menyebabkan deformasi, keretakan, atau bahkan melelehkan akrilik.

6. Pembersihan dengan Larutan Hipoklorit (Pemutih)

Larutan pemutih (natrium hipoklorit) dengan konsentrasi rendah (sekitar 0,5%) bisa digunakan untuk membunuh mikroorganisme. Semprotkan atau rendam tabung dalam larutan ini selama beberapa menit, lalu bilas dengan air steril. Hindari konsentrasi yang terlalu tinggi atau paparan terlalu lama karena bisa merusak akrilik.

7. Pembersihan dengan Uap Dingin atau Fogging

Metode ini menggunakan uap dingin dari larutan disinfektan seperti hidrogen peroksida yang diproses menjadi uap halus. Metode ini aman untuk akrilik karena tidak menggunakan suhu tinggi atau bahan kimia keras yang bisa merusak permukaan.

8. Pembilasan dengan Air Distilasi atau Steril

Setelah menggunakan metode sterilisasi apa pun, penting untuk membilas tabung dengan air distilasi atau air steril untuk memastikan tidak ada residu kimia yang tertinggal, yang dapat mempengaruhi bioproses atau merusak tabung dalam jangka panjang.

Hal yang Harus Dihindari:

  • Suhu Tinggi: Akrilik sensitif terhadap panas, jadi hindari sterilisasi dengan metode panas seperti autoklaf.
  • Alkohol dengan Konsentrasi Tinggi: Menggunakan alkohol lebih dari 70% bisa merusak akrilik dalam jangka panjang.
  • Bahan Kimia Abrasif: Jangan menggunakan pembersih berbasis amonia, aseton, atau bahan abrasif lainnya yang bisa membuat permukaan akrilik retak atau kusam.

Metode-metode ini bisa digunakan dengan aman untuk sterilisasi tabung akrilik tanpa mengurangi kekuatan atau kualitas materialnya.

Sifat material akrilik/ pmma / plexiglas dibandingkan plastik lainnya

Akrilik, juga dikenal sebagai PMMA (polimetil metakrilat) atau Plexiglas, memiliki sejumlah sifat yang membuatnya berbeda dari plastik lainnya. Berikut adalah beberapa sifat material akrilik dibandingkan dengan plastik lainnya:

Sifat-sifat Akrilik (PMMA / Plexiglas)

  1. Transparansi:

    • Akrilik: Akrilik sangat transparan, dengan transmisi cahaya sekitar 92%, menjadikannya lebih jernih daripada kaca. Ini membuat akrilik ideal untuk aplikasi yang memerlukan kejernihan optik tinggi, seperti akuarium, display, dan lensa.
    • Plastik Lainnya: Banyak plastik lain, seperti polietilen (PE) dan polipropilen (PP), tidak memiliki transparansi yang sama dan lebih sering digunakan untuk aplikasi di mana kejernihan optik tidak diperlukan.

    • Tabung Akrilik

  2. Kekuatan dan Ketahanan:

    • Akrilik: Akrilik lebih kuat daripada kaca, tetapi lebih rapuh dibandingkan dengan beberapa plastik lainnya seperti polikarbonat (PC). Akrilik cenderung retak di bawah tekanan yang cukup besar.
    • Plastik Lainnya: Polikarbonat, misalnya, lebih tahan benturan dan tidak mudah pecah. Namun, polikarbonat tidak se-transparan akrilik dan bisa menguning seiring waktu jika terkena sinar UV.
  3. Ketahanan terhadap Sinar UV:

    • Akrilik: Akrilik memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap sinar UV dan tidak menguning atau menurun kualitasnya ketika terkena paparan sinar matahari yang lama.
    • Plastik Lainnya: Plastik seperti polikarbonat dan PVC bisa menguning atau mengalami degradasi ketika terkena sinar UV dalam jangka panjang.
  4. Kemudahan Pembentukan:

    • Akrilik: Akrilik dapat dipotong, dibor, dan dibentuk dengan relatif mudah menggunakan alat-alat yang biasa digunakan dalam pengerjaan kayu atau logam. Akrilik juga dapat dipanaskan dan dibentuk menjadi berbagai bentuk.
    • Plastik Lainnya: Polietilen dan polipropilen lebih sulit untuk dibentuk dengan presisi yang sama dan sering kali memerlukan metode pemrosesan khusus.
  5. Harga:

    • Akrilik: Secara umum, akrilik lebih mahal dibandingkan dengan beberapa plastik lainnya seperti polietilen dan polipropilen.
    • Plastik Lainnya: Plastik seperti PE dan PP biasanya lebih murah dan sering digunakan untuk aplikasi yang tidak memerlukan sifat optik atau mekanik khusus.
  6. Ketahanan Kimia:

    • Akrilik: Akrilik memiliki ketahanan yang baik terhadap banyak bahan kimia, tetapi bisa terpengaruh oleh pelarut organik tertentu seperti aseton dan klorin.
    • Plastik Lainnya: Plastik seperti polipropilen memiliki ketahanan kimia yang sangat baik terhadap banyak jenis bahan kimia, termasuk asam dan basa kuat.
  7. Penggunaan Umum:

    • Akrilik: Digunakan dalam pembuatan jendela, akuarium, display, tanda, pelindung mesin, dan lensa optik.
    • Plastik Lainnya: Polietilen digunakan dalam kantong plastik, botol, dan mainan. Polipropilen digunakan dalam kontainer makanan, peralatan medis, dan tekstil. Polikarbonat digunakan dalam kaca anti peluru, lensa kacamata, dan CD/DVD.

Tabel Perbandingan Sifat Akrilik dengan Plastik Lainnya

SifatAkrilik (PMMA)Polikarbonat (PC)Polietilen (PE)Polipropilen (PP)
TransparansiSangat tinggiTinggiRendahRendah
KekuatanSedangSangat tinggiRendahSedang
Ketahanan UVSangat baikKurangBaikBaik
Kemudahan PembentukanSangat baikBaikSedangSedang
HargaTinggiTinggiRendahRendah
Ketahanan KimiaBaikSedangSangat baikSangat baik

Dengan sifat-sifat ini, akrilik menjadi pilihan yang sangat baik untuk aplikasi yang memerlukan kejernihan optik, ketahanan terhadap sinar UV, dan estetika. Namun, untuk aplikasi yang membutuhkan ketahanan benturan atau ketahanan kimia yang lebih tinggi, plastik lain seperti polikarbonat atau polipropilen mungkin lebih sesuai.

Kami menerima jasa pembuatan tabung akrilik custom berbahan akrilik lembaran untuk berbagai keperluan. Klik di sini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...